TOPENG
Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya. Bahkan seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari, menurut keterangan dari Ki Kandeg (ahli pembuat topeng Cirebon) pada masa lalu kayu yang biasa digunakan adalah kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga dan kayu Lame. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok (bahasa Indonesia : topeng) diantaranya adalah kesenian tari Topeng Cirebon. Topeng Cirebon dibuat oleh seorang ahli kedok yang cukup mumpuni, biasanya keahlian para ahli kedok berkembang seiring dengan perkembangan kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok tersebut dimana keahliannya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Salah satu yang terkenal diantaranya adalah Ki Waryo putera dari maestro kesenian Cirebon Ki Empek.
Filosofi topeng Cirebon
Topeng dalam filosofi kebudayaan Cirebon tidak hanya dipandang sebagai kedok (bahasa Indonesia : topeng) dalam artian penutup wajah, namun dipandang sebagai hiasan yang dipasang menempel pada bagian depan sorban (bahasa Indonesia : penutup kepala), hal tersebut terbukti dengan adanya ungkapan di masyarakat Cirebon yang berbunyi ketop-ketop gopeng (bahasa Indonesia : hiasan pada bagian depan sorban) yang dibenarkan oleh mimi Wangi Indriya (maestro tari Topeng Cirebon gaya Tambi)
Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya. Bahkan seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari, menurut keterangan dari Ki Kandeg (ahli pembuat topeng Cirebon) pada masa lalu kayu yang biasa digunakan adalah kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga dan kayu Lame. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok (bahasa Indonesia : topeng) diantaranya adalah kesenian tari Topeng Cirebon. Topeng Cirebon dibuat oleh seorang ahli kedok yang cukup mumpuni, biasanya keahlian para ahli kedok berkembang seiring dengan perkembangan kesenian-kesenian yang berhubungan dengan kedok tersebut dimana keahliannya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Salah satu yang terkenal diantaranya adalah Ki Waryo putera dari maestro kesenian Cirebon Ki Empek.
Filosofi topeng Cirebon
Topeng dalam filosofi kebudayaan Cirebon tidak hanya dipandang sebagai kedok (bahasa Indonesia : topeng) dalam artian penutup wajah, namun dipandang sebagai hiasan yang dipasang menempel pada bagian depan sorban (bahasa Indonesia : penutup kepala), hal tersebut terbukti dengan adanya ungkapan di masyarakat Cirebon yang berbunyi ketop-ketop gopeng (bahasa Indonesia : hiasan pada bagian depan sorban) yang dibenarkan oleh mimi Wangi Indriya (maestro tari Topeng Cirebon gaya Tambi)
Tari Topeng Cirebon ini adalah satu
kesenian seni tari asli dari Cirebon termasuk juga dari daerah Indramayu,
Jatibarang, Losari dan Brebes, Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di
tatar Parahyangan, mengapa dinamakan tari topeng karena memang ketika beraksi
sang penari memakai topeng.
Tari Topeng Cirebon, kini menjadi
salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni tari ini adalah warisan pada
zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di kerajaan, Penari dan penabuh
gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh Raja.
Namun raja-raja Cirebon tak
bisa terus menerus menghidupi kelompok kesenian karena kegiatan ekonominya
diatur oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga saat itu para penari dan
penabuh gamelan akhirnya mencari mata pencaharian dengan mbebarang atau
pentas keliling kampung.
Dahulu pada tahun 1980 an Seni tari
Topeng ini sering di peragakan oleh sekelompok penari jalanan untuk mencari
nafkah dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya di kota Cirebon.
Sejak itu, Tari Topeng Cirebon mulai
dikenal di pedesaan. Grup-grup Tari Topeng Cirebon bermunculan dan
beberapa grup tari topeng sibuk mbebarang dari desa ke desa untuk
memeriahkan hajatan. tapi entah mengapa saat ini sudah sangat jarang di
peragakan oleh para grup tari keliling.
Topeng pada masa kesultanan Cirebon
Pada masa kekuasaan Sunan Gunung Jati di kesultanan Cirebon kesenian topeng dikaitkan dengan dakwah Islam, Sunan Jati melakukan pendekatan-pendekatan yang persuasif dengan masyarakat, salah satunya adalah dengan kesenian Topeng Cirebon.
Pada masa yang sama, Sunan Kalijaga juga membantu penyebaran dakwah Islam dengan menggunakan kesenian topeng Cirebon, menurut budayawan Cirebon Toto Suanda, Sunan Kalijaga mengajarkan kepada murid-muridnya yaitu Pangeran Bagusan, Ki buyut Trusmi dari desa Trusmi, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon dan Pangeran Losari tentang kesenian topeng Cirebon, dari merekalah kemudian kesenian topeng Cirebon menyebar ke wilayah Indramayu, Majalengka dan wilayah-wilayah lainnya yang kemudian berkembang menjadi pelengkap penampilan dari gaya-gaya tari Topeng Cirebon.
Pada masa kekuasaan Sunan Gunung Jati di kesultanan Cirebon kesenian topeng dikaitkan dengan dakwah Islam, Sunan Jati melakukan pendekatan-pendekatan yang persuasif dengan masyarakat, salah satunya adalah dengan kesenian Topeng Cirebon.
Pada masa yang sama, Sunan Kalijaga juga membantu penyebaran dakwah Islam dengan menggunakan kesenian topeng Cirebon, menurut budayawan Cirebon Toto Suanda, Sunan Kalijaga mengajarkan kepada murid-muridnya yaitu Pangeran Bagusan, Ki buyut Trusmi dari desa Trusmi, kecamatan Plered, kabupaten Cirebon dan Pangeran Losari tentang kesenian topeng Cirebon, dari merekalah kemudian kesenian topeng Cirebon menyebar ke wilayah Indramayu, Majalengka dan wilayah-wilayah lainnya yang kemudian berkembang menjadi pelengkap penampilan dari gaya-gaya tari Topeng Cirebon.
Sejarah Tari Topeng Cirebon
Konon pada awalnya, Tari Topeng
Cirebon ini diciptakan oleh sultan Cirebon yaitu Sunan Gunung Jati.
Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran
Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug
Sewu.
Melihat kesaktian sang pangeran
tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu
oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan
untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.
Berawal dari keputusan itulah
kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai
penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta
pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda
cintanya.
Bersamaan dengan penyerahan pedang
itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah
pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia
Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi
Pangeran Graksan.
Seiring dengan berjalannya waktu,
tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang
hingga sekarang.
Dalam tarian ini biasanya sang
penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna
putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah.
Uniknya, tiap warna topeng yang
dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari
karakter tokoh yang diperankan. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk,
formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda
bahwa tarian akan dimulai.
Setelah itu, kaki para penari digerakkan
melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada
para penontonnya.
Gerakan ini kemudian dilanjutkan
dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai
topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan
sudah dimulai.
Setelah berputar-putar menggerakkan
tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton
sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru.
Proses serupa juga dilakukan ketika
penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian
topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga
semakin keras.
Puncak alunan musik paling keras
terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.
Setiap pergantian warna topeng itu
menunjukan karakter tokoh yang dimainkan, misalnya warna putih. Warna ini
melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim.
Sedangkan topeng warna biru, warna
itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang
terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (temperamental)
dan tidak sabaran.
Busana yang dikenakan penari
biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari
toka-toka, apok, kebaya, sinjang dan ampreng.
Babak Pentas Tari Topeng Khas
Cirebon
Pementasan Tari Topeng Cirebon ini
berlangsung selama 5 babak dan setiap babak berjalan 1 jam.
Topeng yang muncul ada 5 tokoh,
yaitu topeng Panji, Samba, Tumenggung, Kalana dan Rumyang dan
Kelima tokoh ini dibawakan oleh penari yang sama, yaitu dalang
topeng. Kelima topeng itu menggambarkan watak manusia.
- Topeng Panji menggambarkan watak manusia yang arif, bijaksana, dan rendah hati.
- Topeng Samba menggambarkan watak manusia yang suka hura-hura dan penuh canda.
- Topeng Tumenggung menggambarkan watak ksatria yang gagah berani dan percaya diri.
- Topeng Kalana menggambarkan sifat manusia yang tamak
- Topeng Rumyang melambangkan sifat ketakwaaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Untuk masyakarat Cirebon, kesenian
Tari Topeng ini mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan
masyarakat, karena pada awal kemunculannya kesenian topeng menjadi sarana
penyebaran agama Islam pada masa Sunan Gunung Jati yang bertujuan agar bisa
lebih dekat dan diterima dengan masyarakat.

0 Komentar