Keanekaragaman kultur budaya bangsa Indonesia dapat kita lihat dari berbagai ritual masyarakat dan kesenian tradisional diberbagai yang mmpunyai ciri-ciri yang khas sesuai kultur daerahnya. Masyarkat terus berusaha menggali, melestarikan sehingga terus dapat berkembang dan menghasilkan karya yang sangat tinggi nilainya. Kebudayaan akan selalu berkembang seiring dalam perkembanganya masyarakatnya itu sendiri.
Salah satu bentuk ekspresi seni yang berkembang di Indonesia adalah seni tari. Setiap suku di Indonesia memiliki seni tari yang spesifik yang berkembang pada masing-masing suku dan daerahnya. Tari atau tarian merupakan salah satu jenis ekspresi jiwa seni manusia yang di ungkapkan melalui gerakan tubuh yang indah yang memancarkan jiwa manusia yang berakal kehendak emosi.
Sebelum kita lanjut bahas tari topeng, kalian sudah tahu belum sih tentang topeng iu sendiri? terlebih dahulu mari kita bahas apa iu topeng? Terbuat dari apa? Jenis jenis topeng? Dan bagaimana sejarahnya?
Topeng Cirebon biasanya terbuat dari bahan kayu lunak sehingga mudah dibentuk, misalnya kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga ataupun kayu Lame. Meski terbuat dari bahan yang lunak, tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian dalam pembuatannya.
Bahkan bagi seorang pengrajin ahli, membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Disamping adanya proses pewarisan keahlian dari generasi ke generasi, kelestarian tradisi pembuatan topeng berkembang seiring dengan perkembangan kesenian yang menggunakannya, diantaranya adalah Tari Topeng Cirebon.
Sebagai sebuah karya seni, topeng dibuat bukan hanya dipandang sebagai kedok penutup wajah. Dalam filosofi kebudayaan Cirebon, topeng lebih berfungsi sebagai hiasan bagian depan sorban atau penutup kepala.
Istilah topeng sendiri dalam lingkup masyarakat Cirebon terbentuk dari dua kata yakni “ketop-ketop” yang berarti berkilauan dan “gepeng” yang berarti pipih. Kedua istilah tersebut mewakili sebuah elemen yang ada di bagian muka sobrah atau tekes, yaitu hiasan di kepala sang penari.
Topeng Cirebonan hadir dalam beragam jenis, namun ada lima topeng utama yang biasa ditampilkan dan dikenal dengan Topeng Panca Wanda (topeng lima wanda atau lima rupa), diantaranya sebagai
berikut :
• Topeng Panji : Berwajah putih bersih sebagai penggambaran kesucian bayi yang baru lahir.
• Topeng Samba (Pamindo) : Mewakili wajah anak-anak yang ceria, lucu dan lincah.
• Topeng Rumyang : Dibentuk untuk melambangkan seorang remaja.
• Topeng Patih (Tumenggung) : Mewakili wajah kedewasaan, berkarakter tegas, berkepribadian dan bertanggung jawab.
• Topeng Kelana (Rahwana) : Dibentuk sedemikian rupa untuk menggambarkan seseorang yang sedang marah.
Selain Topeng Panca Wanda diatas, pada era sebelum 70-an terdapat topeng-topeng lain sebagai pelengkap babak dalam pagelaran tari Topeng Cirebon.
Diantara topeng-topeng pelengkap adalah Tembem, Pratajaya, Prasanta, Sabdapalon, Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng, Sentingpraya, serta Ngabehi Subakrama.
Tari Topeng Cirebonan ternyata salah satu seni yang berisi hiburan juga mengandung simbol-simbol yang melambangkan berbagai aspek kehidupan seperti nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, cinta bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dilahirkan hingga menginjak dewasa. Dalam hubungan ini maka seni Tari Topeng ini dapat digunakan sebagai media komunikasi yang sangat positif sekali.
Sebenarnya Tari Topeng ini sudah ada jauh sejak abad 10-11M yaitu pada masa pemerintahan Raja Jenggala di Jawa Timur yaitu Prabu Panji Dewa. Melalui seniman jalanan Seni Tari Topeng ini masuk ke Cirebon dan mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat.
Tari Topeng Cirebon merupakan kesenian asli masyarakat Cirebon, yang terletak di pesisir utara laut pulau Jawa. Cirebon adalah salah satu kota di provinsi Jawa Barat. Masyarakat asli Cirebon memiliki kesenian Tari Topeng. Tari ini dinamakan Tari Topeng karena ketika beraksi sang penari topeng memkai topeng. Tari topeng banyak sekli ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerak, cerita, custom, maupun fungsi yang akan disampaikan kepada masyarakat. Tari topeng itu sendiri dapat diperankan dalam tarianseorang penari ataupun beberapa penari.
Konon tarian tersebut telah tumbuh dan berkembang sejak abad ke 10-16 M di Jawa Timur. Pada saat kerajaan Jenggala berkuasa, yakni pada masa pemerintahan Prabu Amiluhur atau Prabu Panji Dewa, melalui seniman Jalanan seni tari Topeng akhirnya masuk ke Cirebon dan kemudian mengalami perpaduan dengan kesenian masyarakat asli Cirebon. Dari hasil perpaduan kemudian dinamakan Tari Topeng Cirebon.
Cirebon merupakan salah satu wilayah bagi pintu masuknya Islam di Tanah Jawa. Hal ini membawa dampak bagi perkembangan seni tradisi yang telah bercongkol sebelumnya. Masuknya Islam di Cirebon pada abad 15M yaitu pada tahun 1470, disebarkan oleh Syarif Hidayatullah yang bergelar Syekh Sunan Gunung Jati. Cirebon menjadi pusat penyebaran agama islam di tanah jawa (zaman Wali Songo). Sunan Gunung Jati bekerjasama dengan sunan Kalijaga memfungsikan Tari Topeng Cirebon sebagai bagian dari upaya penyebaran agama Islam dan sebagai tontonan dilingkungan keraton.
Pada tahun 1479, ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini konon sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian Pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kali Jaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya Sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomatis kesenian.
Dari keputusan itulah mendapatkan hasil kemudian terbentuklah kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itulah, akhirnya Pangeran Welan Jatuh Hati kepada sosok sang penari yang diperankan oleh Nyi Mas Gandasari dan merelakan pedang saktinya pedang Curug Sewu di serahkan sebagai tanda cinta kasihnya kepada Nyi Mas Gandasari.
Akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan bertekuk lutut dengan menyerah kepada Sunan Gunung Jati. Pangeran berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan pergantian nama menjadi Pangeran Graksan. Seiring berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng Cirebon dan masih eksis hingga sekarang baik di Cirebon, maupun wilayah yang lebih luas.
Dalam perkembangannya, Tari Topeng Cirebon kemudian memperoleh dan memiliki bentuk serta penyajian yang spesifik. Selanjutnya dikenal beberapa macam Tari Topeng Cirebon Yaitu tari Topeng Klana, Tari Topeng temenggung, Tari Topeng Rumyang, Tari Topeng Samba/Pamindo dan Tari Topeng Panji. Semua Tarian tersebut mengunakan topeng sebagai penutup muka dengan 5 jenis topeng yang kemudian dikenal sebagai PANCA WANDA (berarti lima wanda atau lima muka) yaitu: Panji, Samba/Pamindo, Rumyang, Tumenggung dan Klana.
Tari Topeng Cirebon mempunyai nilai hiburan yang mengandung pesan-pesan terselubung, karena unsure-unsur yang terkandung, didalamnya mempunyai arti simbolik yang bilah diterjemahkan sangat menyentuh berbagai aspek kehidupan, yang juga mempunyai nilai pendidikan. Meliputi aspek kehidupan manusia diantaranya, kepribadian, kebijaksanaan, kepemimpinan, cinta bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dilahirkan hingga menginjak dewasa

0 Komentar