Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di wilayah kesultanan Cirebon. Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari, dan Brebes. Disebut tari topeng karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Pada pementasan tari Topeng Cirebon, penarinya disebut sebagai dalang, dikarenakan mereka memainkan karakter topeng-topeng tersebut.
Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.
Berkas:Arya-pementasan tari topeng Wotgali 2019.webmPutar media
Pementasan tari topeng
Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java mendeskripsikan bahwa kesenian topeng Cirebon merupakan penjabaran dari cerita Panji dimana dalam satu kelompok kesenian topeng terdiri dari dalang (yang menarasikan kisahnya) dan enam orang pemuda yang mementaskannya diiringi oleh empat orang musisi gamelan
Salah satu kekhasan tari topeng ini adalah pada gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, sementara iringan musiknya di dominasi oleh kendang dan rebab. Keunikan lainnya adalah adanya proses pewarisan keahlian dari generasi tua kepada yang lebih muda.
Seperti diketahui, tari ini memiliki keragaman gaya tarian, adapun proses pewarisan erat hubungannya dengan adat istiadat sebuah desa atau daerah yang memiliki tari topeng dengan kekhasan tersendiri.
Topeng Cirebon biasanya terbuat dari bahan kayu lunak sehingga mudah dibentuk, misalnya kayu Jaran, kayu Waru, kayu Mangga ataupun kayu Lame. Meski terbuat dari bahan yang lunak, tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian dalam pembuatannya.
Bahkan bagi seorang pengrajin ahli, membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Disamping adanya proses pewarisan keahlian dari generasi ke generasi, kelestarian tradisi pembuatan topeng berkembang seiring dengan perkembangan kesenian yang menggunakannya, diantaranya adalah Tari Topeng Cirebon.
Sebagai sebuah karya seni, topeng dibuat bukan hanya dipandang sebagai kedok penutup wajah. Dalam filosofi kebudayaan Cirebon, topeng lebih berfungsi sebagai hiasan bagian depan sorban atau penutup kepala.
Istilah topeng sendiri dalam lingkup masyarakat Cirebon terbentuk dari dua kata yakni “ketop-ketop” yang berarti berkilauan dan “gepeng” yang berarti pipih. Kedua istilah tersebut mewakili sebuah elemen yang ada di bagian muka sobrah atau tekes, yaitu hiasan di kepala sang penari.
Topeng Cirebonan hadir dalam beragam jenis, namun ada lima topeng utama yang biasa ditampilkan dan dikenal dengan Topeng Panca Wanda (topeng lima wanda atau lima rupa), diantaranya sebagai berikut :
• Topeng Panji : Berwajah putih bersih sebagai penggambaran kesucian bayi yang baru lahir.
• Topeng Samba (Pamindo) : Mewakili wajah anak-anak yang ceria, lucu dan lincah.
• Topeng Rumyang : Dibentuk untuk melambangkan seorang remaja.
• Topeng Patih (Tumenggung) : Mewakili wajah kedewasaan, berkarakter tegas, berkepribadian dan bertanggung jawab.
• Topeng Kelana (Rahwana) : Dibentuk sedemikian rupa untuk menggambarkan seseorang yang sedang marah.
Selain Topeng Panca Wanda diatas, pada era sebelum 70-an terdapat topeng-topeng lain sebagai pelengkap babak dalam pagelaran tari Topeng Cirebon.
Diantara topeng-topeng pelengkap adalah Tembem, Pratajaya, Prasanta, Sabdapalon, Pentul, Sadugawe, Nayagenggong/Gareng, Sentingpraya, serta Ngabehi Subakrama.
Seperti disebut dalam kesejarahan tari ini, awalnya Tari Topeng Cirebon lebih dikonsentrasikan di lingkungan keraton. Seiring perkembangannya, lama-kelamaan kesenian ini kembali, melepaskan diri dan dianggap sebagai rumpun tari yang berasal dari tarian rakyat.
Sementara itu, karena pada masa Islam tari ini lebih diupayakan untuk penyebaran agama, maka dikemaslah pertunjukan ini menjadi bermuatan filosofis dan berwatak atau wanda.
Pengemasan yang dimaksud adalah lebih menggambarkan ketakwaan dalam beragama serta tingkatan sifat manusia, diantaranya sebagai berikut :
• Makrifat (Insan Kamil) : Tingkatan tertinggi manusia dalam beragama dan sudah sesuai dengan syariat agama.
• Hakikat : Pengambaran manusia yang berilmu, sehingga telah faham mana yang menjadi hak seorang hamba dan mana yang hak sang Khalik.
• Tarekat : Gambaran manusia yang telah hidup dengan menjalankan agama dalam perilaku kehidupannya sehari-hari.
• Syariat : Sebagai gambaran manusia yang memulai untuk memasuki atau baru mengenal ajaran Islam.
Sebagai hasil budaya, Tari Topeng Cirebon mengusung nilai hiburan yang mengandung pesan-pesan terselubung. Unsur-unsur yang terkandung mempunyai arti simbolik yang bila diterjemahkan sangatlah menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga juga memiliki nilai pendidikan.
Aspek kehidupan dalam hal ini sangatlah bervariasi, termasuk kepribadian, kepemimpinan, cinta, angkara murka, serta penggambaran hidup manusia sejak lahir hingga dewasa.
Tari Topeng Losari Cirebon merupakan tari topeng yang menyatukan antara mitologi agama dengan moral manusia, yang pasrah terhadap kehendak Yang Maha Kuasa. Menjadi penari Topeng Losari bukan perkara yang mudah. Tidak sembarangan orang bisa menarikan tari topeng ini. Hanya yang memiliki garis keturunan langsung dan itupun harus melewati persyaratan dan ritual khusus baru bisa menarikan Tari Topeng Losari Cirebon ini.
Ritual yang harus dilakukan antara lain, mutih gedang artinya puasa makan pisang, puasa rawit artinya puasa yang berbuka dengan makan cabai rawit, puasa putih geni artinya puasa tidak makan tidak tidur, puasa wuwungan artinya selama puasa di kurung di dalam kamar tanpa ada yang mendatangi, puasa sedawuh artinya puasa sampai jam 12 siang. Semuanya ini dilakukan oleh Penari Tari Topeng Losari Cirebon agar nanti di dalam pementasan berjalan lancar tanpa ada halangan.
Ciri spesifik dari tarian ini terletak pada gaya antara lain gaya gakong (sikap kayang), gantung sikil (menggantung kaki) dan pasang naga seser (kuda-kuda). Ciri lainnya adalah selama menari Tari Topeng Losari Cirebon ini para penarinya akan menutup matanya mengikuti irama musik karena pada Topeng Losari ini pada bagian matanya tidak ada lubang matanya.
Tari Topeng Losari Cirebon dalam penampilannya menampilkan gerakan yang keras dan lembut di mana pada setiap gerak tarinya ini menggambarkan kehidupan didunia ini. Sekeras-kerasnya sikap seseorang pasti akan mempunyai sikap lembut disisi manusianya itu, dimana ini menggambarkan tentang keseimbangan antara keras dan lembut didunia ini.
Pelestarian Tari Topeng Losari Cirebon dilakukan dengan secara terus menerus dengan menampilkan tarian ini di mata masyarakat luas, karena tarian ini merupakan warisan seni dan budaya Indonesia yang harus kita jaga sampai kapanpun dan jangan sampai hilang atau punah.
Selain Tari Topeng Losari Cirebon masih banyak tarian topeng yang lain yang masih merupakan satu kesatuan yang di bagi menjadi beberapa sekuel atau pembabakan seperti tari topeng Panji, Samba, Rumyang, Tumenggungan dan Klana dan semuanya itu menggambarkan sebuah perjalanan watak kehidupan manusia di dunia ini.
Pada Tari Topeng Losari yang diutamakan bukan karakter watak tetapi cerita atau lakon yang mempunyai teknik dan penjiwaan karakter. Tari Topeng Losari Cirebon mempunyai 9 babakan yaitu Panji Sutrawi-Naugun, Patih Jayabrada, Tumenggung Mayangdiraja, Jinggon Anom, Klana, Bandopati, Rumyong dan Lakonan.
Ciri lain dari Tari Topeng Losari Cirebon adalah pakaian yang di pakai mengenakan kain yang bermotif liris atau parang yang merupakan motip khas untuk daerah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Barat (Cirebonan).
0 Komentar